KH Zulfa Mustofa, Sosok Ulama Muda yang Tenang dan Berwawasan di PBNU

JAKARTA – KH Zulfa Mustofa adalah nama yang baru saja dikenal luas setelah ditunjuk sebagai Wakil Ketua Umum PBNU periode 2022-2027. Sebagai kiai muda yang lahir pada 7 Agustus 1977, sosoknya menarik perhatian karena cara bicaranya yang tenang dan runtut saat berceramah.
Beliau mengungkapkan banyak dalil tentang praktik amaliyah NU dengan logika yang kuat, namun tetap terbuka terhadap perbedaan pandangan tanpa menyindir pihak lain.
Walau bukan tipe orator yang berapi-api, ceramahnya tetap menarik karena diselingi canda tawa seperti kebiasaan kiai NU. Beliau juga dikenal gemar bersyair dalam bahasa Arab, bahkan menciptakan syair berdasarkan perasaannya.
Salah satu karya beliau adalah syair sejarah Syekh Nawawi Albantani, yang kini telah diterbitkan sebagai buku, menambah koleksi karya tulisnya.
Rasa penasaran saya terhadap sosoknya makin bertambah setelah mengetahui jejak digitalnya. Ternyata, KH Zulfa adalah keponakan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, dan beliau juga alumni Matholiul Falah Kajen, Pati, yang diasuh oleh KH Sahal Mahfudz.
Sebagai sesama alumni Matholek, ada kebanggaan tersendiri, meski saya lebih senior karena beliau angkatan 90-an sedangkan saya 85-an.
Pengalaman di Matholek cukup berat, terutama saat di kelas II Tsanawiyah yang mengharuskan siswa menghafal nadhom Alfiah dan Faraid. Untuk menyelesaikan hafalan ini, saya harus berusaha keras, menahan diri tidak pulang selama hampir setahun dan berlatih hafalan setiap hari di makam KH Ahmad Mutamakkin bersama santri lainnya.
Meski pengalaman saya mungkin berbeda dari Kiai Zulfa, tantangan hafalan di Matholek selalu menjadi fase penting bagi santri.
Dari garis keturunan, KH Zulfa Mustofa memang layak menjadi sosok yang berilmu dalam agama. Beliau berasal dari keluarga ulama, termasuk hubungan kekerabatan dengan Syekh Nawawi Albantani dan KH Ma’ruf Amin.
Munculnya Kiai Zulfa di kepemimpinan PBNU menambah jajaran ulama muda di NU, bergabung dengan nama-nama seperti Gus Baha dan Gus Ulil Absar.
Dengan usia yang masih 45 tahun, Kiai Zulfa menjadi tanda harapan bahwa NU akan selalu memiliki ulama yang mendalam ilmu dan pandangannya, menghadirkan Islam dengan keindahan serta kelembutan dalam perbedaan tafsir.






